Kamis, 30 Juni 2016

Pengantar Model SCOR

Pengantar Model SCOR
 Oleh: Wibisono Adhi

SCOR merupakan kepanjangan dari Supply Chain Operation Reference. SCOR merupakan sebuah model referensi proses yang dikembangkan oleh lembaga konsultan manajemen PRM dan disahkan oleh supply chain council. Model ini telah dikembangkan untuk mendeskripsikan aktivitas binis yang berasosiasi dengan semua tahapan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Model SCOR memungkinkan penggunanya untuk merujuk, meningkatkan dan mengkomunikasikan best practices di dalam dan diantara pihak – pihak yang terlibat pada supply chain perusahaan dalam arti luas. Cakupan dari model SCOR adalah mulai dari supliernya supplier sampai pada pelanggannya pelanggan. Model SCOR berbasis pada tiga pilar utama yakni process modeling, performance measurements, dan best practices.  

1. Process Modeling

Model SCOR tersusun dari enam bagian proses manajemen. Keenam bagian tersebut antara lain plan, source, make, deliver, return, dan enable. Masing – masing dijelaskan secara singkat sebagai berikut:

1.    Plan -> proses yang menyeimbangkan agregasi antara demand dengan supply untuk mengembangkan arahan atau acuan yang sesuai dengan prinsip - prinsip dan kebutuhan proses pengadaan, produksi, dan pengiriman.

2.    Source -> proses untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual. 

3.     Make -> proses mentransformasi produk menjadi produk akhir untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual.

4.    Deliver -> proses untuk menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual, biasanya mencakup order management, menejemen trasportasi dan distribusi. 

5.    Return -> segala proses yang berhubungan dengan pengembalian atau penerimaan barang yang dikembalikan karena alasan tertentu. Proses ini merupakn porses lanjutan dari post-delivery customer support. 

6.    Enable -> (proses baru SCOR ver. 11 sejak Dec 2012) Segala proses untuk membuat rantai pasok menjadi semakin efisien, didalamnya termasuk penggunaan IT dan aktivitas pengukuran performa rantai pasok. 

Di dalam process modeling terdapat 3 tahapan. Tahap yang pertama adalah menetukan scope (cakupan) dan konteks, batasan wilayah, segmen, dan produk. Dalam tahap ini (level 1) disusun aktivitas – aktivitas kunci yang memberikan nilai tambah di setiap proses mulai dari Plan hingga proses enable. Tahapan yang kedua adalah mengidentifiaksi konfigurasi di dalam batasan wilayah, segmen, dan produk yang telah ditentukan sebelumnya. Konfigurasi yang dihasilkan merupakan turunan dari aktivitas kunci pada level 1. Sebagai contoh jika di level 1 terdapat aktivitas kumci berupa Make (M) maka konfigurasinya adalah bagaimana produk akan diproduksi apakah berupa make to stock (M1), make to order (M2), atau make engineer to order (M3). Tahapan yang terakhir adalah menidentifikasi aktivitas bisnis yang menajdi best practices sebagai detail dari konfigurasi model yang dikembangkan di level 2. Contoh turunan dari M2 dapat berupa schedule production activities (M2.01), produce & test (M2.02), release product to deliver (M2.03). Keterangan di dalam tanda kurunng merupakan contoh system penandaan yang sering digunakan dalam model SCOR. 

2.   Performance Measurements

Di dalam model SCOR terdapat lebih dari 150 key performance indicators (KPI) yang dapat digunakan dalam pengukuran kinerja rantai pasok. Penggunaan KPI tersebut disesuaikan pada kebutuhan dan tujuan dari manajemen rantai pasok. Tentunya dalam hal ini pemilihan KPI dapat sangat berbeda antara satu indutri dengan yang lainnya. Pengukuran kinerja di dalam model SCOR dilakukan dengan sistem matriks yang disusun secara hirarki. Matriks level 1 merupakan level yang paling teragregasi. Matriks level ini digunakan oleh pengambil keputasn yang berada di level puncak. Matriks level 2 merupakan matriks primer (tingkat atas) yang mengukur berbagai proses dalam model SCOR. Matriks level 3 berisi KPI yang lebih teknis dan tidak harus selalu berhubungan dengan SCOR level 1 (plan, source, make, deliver, return). Didalam pengukuran kinerja rantai pasok digunakan atribut pengukuran yang berupa karakteristik atau sifat yang pada rantai pasok yang dapat diukur, dievaluasi, dan dibandingkan dengan karakteristik rantai pasok lainnya. Di dalam model SCOR pengukuran dan pembandingan dilakukan sepenuhnya terhadap manajemen rantai pasok, tidak kepada level organisasi. Rantai pasok tersebut didefinisikan sebagai organisai yang terikat pada pelanggan dan produk, sehingga bagi perusahaan yang memiliki beberapa produk berbeda akan memiliki beberapa rantai pasok. Masing – masing indikator dan atribut yang dinilai akan dibandingkan dengan best practice yang datanya sudah tersedia pada SCOR. Namun data tidak tersedia untuk semua jenis industri. Dalam hal ini focus utama terletak pada continues improvement untuk menuju best practices yang diharapkan. Sehingga model rantai pasok tersebut dapat dibandingan dengan best practices pada rantai pasok prodk lain yang memiliki banyak kesamaan. 

3.    Best Practicess

Setelah kinerja operasi rantai pasok telah diukur dan kekurangan pada proses telah diidentifikasi, maka tahap selanjtnya adalah menjadi penting untuk mengidentifikasi kegiatan apa yang perlu dilakukan untuk menutup kekurangan tersebut. Tersedia lebih dari 430 praktik eksekusi yang berasal dari pengalaman anggota SCC. Solusi ini dapat diterapkan untuk menghasilkan proses yang optimal. Best practicess tersebut bersifat current, structured, proven dan repatable sehingga dapat membuat dampak positif pada hasil operasional yang diinginkan. Adapun penjelasan singkat terkait sifat best practices yang ditawarkan adalah sebagai berikut :

-          Current: bersifat solusi baru dan tidak boleh ketinggalan zaman.
-          Structured: Telah jelas dinyatakan goal, ruang lingkup, proses, dan prosedurnya.
-          Proven: Sukses telah dibuktikan dalam lingkungan kerja.
-          Repeatable : Praktek telah terbukti di beberapa lingkungan yang berbeda.

Metodologi ini digunakan dalam arti yang sangat luas untuk menunjukkan: proses bisnis, praktik, strategi organisasi, penerapan teknologi, hubungan bisnis, model bisnis, informasi serta ilmu manajemen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar