Pengantar
Model SCOR
Oleh: Wibisono Adhi
SCOR merupakan
kepanjangan dari Supply Chain Operation
Reference. SCOR merupakan sebuah model referensi proses yang dikembangkan
oleh lembaga konsultan manajemen PRM dan disahkan oleh supply chain council. Model ini telah dikembangkan untuk
mendeskripsikan aktivitas binis yang berasosiasi dengan semua tahapan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen. Model SCOR memungkinkan penggunanya untuk merujuk,
meningkatkan dan mengkomunikasikan best
practices di dalam dan diantara pihak – pihak yang terlibat pada supply chain perusahaan dalam arti luas.
Cakupan dari model SCOR adalah mulai dari supliernya supplier sampai pada pelanggannya
pelanggan. Model SCOR berbasis pada tiga pilar utama yakni process modeling, performance measurements, dan best practices.
1. Process
Modeling
Model SCOR
tersusun dari enam bagian proses manajemen. Keenam bagian tersebut antara lain plan, source, make, deliver, return, dan
enable. Masing – masing dijelaskan
secara singkat sebagai berikut:
1.
Plan -> proses
yang menyeimbangkan agregasi antara demand dengan supply untuk mengembangkan
arahan atau acuan yang sesuai dengan prinsip - prinsip dan kebutuhan proses
pengadaan, produksi, dan pengiriman.
2.
Source -> proses
untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual.
3.
Make -> proses
mentransformasi produk menjadi produk akhir untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual.
4.
Deliver -> proses
untuk menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi demand yang telah diprakirakan ataupun demand aktual, biasanya mencakup order management, menejemen trasportasi dan distribusi.
5.
Return -> segala
proses yang berhubungan dengan pengembalian atau penerimaan barang yang
dikembalikan karena alasan tertentu. Proses ini merupakn porses lanjutan dari post-delivery customer support.
6.
Enable -> (proses
baru SCOR ver. 11 sejak Dec 2012) Segala proses untuk membuat rantai pasok
menjadi semakin efisien, didalamnya termasuk penggunaan IT dan aktivitas
pengukuran performa rantai pasok.
Di dalam process modeling
terdapat 3 tahapan. Tahap yang pertama adalah menetukan scope (cakupan) dan konteks, batasan wilayah, segmen, dan produk. Dalam
tahap ini (level 1) disusun aktivitas – aktivitas kunci yang memberikan nilai
tambah di setiap proses mulai dari Plan
hingga proses enable. Tahapan yang
kedua adalah mengidentifiaksi konfigurasi di dalam batasan wilayah, segmen, dan
produk yang telah ditentukan sebelumnya. Konfigurasi yang dihasilkan merupakan
turunan dari aktivitas kunci pada level 1. Sebagai contoh jika di level 1
terdapat aktivitas kumci berupa Make (M) maka konfigurasinya adalah bagaimana
produk akan diproduksi apakah berupa make
to stock (M1), make to order (M2),
atau make engineer to order (M3). Tahapan
yang terakhir adalah menidentifikasi aktivitas bisnis yang menajdi best practices sebagai detail dari konfigurasi
model yang dikembangkan di level 2. Contoh turunan dari M2 dapat berupa schedule production activities (M2.01), produce & test (M2.02), release product to deliver (M2.03).
Keterangan di dalam tanda kurunng merupakan contoh system penandaan yang sering
digunakan dalam model SCOR.
2.
Performance Measurements
Di dalam model
SCOR terdapat lebih dari 150 key
performance indicators (KPI) yang dapat digunakan dalam pengukuran kinerja
rantai pasok. Penggunaan KPI tersebut disesuaikan pada kebutuhan dan tujuan
dari manajemen rantai pasok. Tentunya dalam hal ini pemilihan KPI dapat sangat
berbeda antara satu indutri dengan yang lainnya. Pengukuran kinerja di dalam
model SCOR dilakukan dengan sistem matriks yang disusun secara hirarki. Matriks
level 1 merupakan level yang paling teragregasi. Matriks level ini digunakan
oleh pengambil keputasn yang berada di level puncak. Matriks level 2 merupakan
matriks primer (tingkat atas) yang mengukur berbagai proses dalam model SCOR.
Matriks level 3 berisi KPI yang lebih teknis dan tidak harus selalu berhubungan
dengan SCOR level 1 (plan, source, make,
deliver, return). Didalam pengukuran kinerja rantai pasok digunakan atribut
pengukuran yang berupa karakteristik atau sifat yang pada rantai pasok yang
dapat diukur, dievaluasi, dan dibandingkan dengan karakteristik rantai pasok
lainnya. Di dalam model SCOR pengukuran dan pembandingan dilakukan sepenuhnya
terhadap manajemen rantai pasok, tidak kepada level organisasi. Rantai pasok
tersebut didefinisikan sebagai organisai yang terikat pada pelanggan dan
produk, sehingga bagi perusahaan yang memiliki beberapa produk berbeda akan memiliki
beberapa rantai pasok. Masing – masing indikator dan atribut yang dinilai akan
dibandingkan dengan best practice
yang datanya sudah tersedia pada SCOR. Namun data tidak tersedia untuk semua
jenis industri. Dalam hal ini focus utama terletak pada continues improvement untuk menuju best practices yang diharapkan. Sehingga
model rantai pasok tersebut dapat dibandingan dengan best practices pada rantai pasok prodk lain yang memiliki banyak
kesamaan.
3. Best Practicess
Setelah kinerja operasi rantai pasok telah diukur dan kekurangan pada
proses telah diidentifikasi,
maka tahap selanjtnya adalah menjadi penting untuk mengidentifikasi kegiatan apa yang perlu dilakukan untuk menutup kekurangan tersebut. Tersedia lebih dari 430 praktik eksekusi yang berasal dari pengalaman anggota SCC.
Solusi ini dapat diterapkan untuk menghasilkan proses yang optimal. Best practicess tersebut bersifat current, structured, proven dan repatable sehingga dapat membuat dampak positif pada hasil operasional yang
diinginkan. Adapun penjelasan singkat terkait sifat best
practices yang ditawarkan adalah sebagai berikut :
-
Current: bersifat solusi baru dan tidak
boleh ketinggalan zaman.
-
Structured:
Telah jelas dinyatakan goal, ruang lingkup, proses, dan prosedurnya.
-
Proven:
Sukses telah dibuktikan dalam lingkungan kerja.
-
Repeatable
:
Praktek telah terbukti di
beberapa lingkungan yang berbeda.
Metodologi ini
digunakan dalam arti yang sangat luas untuk menunjukkan: proses bisnis, praktik,
strategi organisasi, penerapan teknologi, hubungan bisnis, model bisnis, informasi serta ilmu manajemen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar