Change
Management dalam proses S&OP
Oleh : Wibisono Adhi
Untuk
memenuhi ekspektasi konsumen secara tradisional upaya yang sering dilakukan
adalah dengan menyediakan stock sebanyak - banyaknya sehingga setiap permintaan
konsumen dapat terpenuhi. Namun hal ini akan sangat berisiko, oleh karena itu
cara ini sudah tidak lagi digunakan. Tersedianya informasi dan fleksibelitas dalam
operasi produksi merupakan substitusi dari inventory.
Informasi - informasi seperti forecast
yang akurat yang berasal dari informasi seperti jadwal pelanggan, ekspektasi
pelanggan, aktivitas kompetitor dan informasi dalam perencanaan rantai pasok
dari hulu hingga hilir menjadikan perencaan produksi menjadi lebih jelas dan
lebih mudah. Selain itu upaya untuk meningkatkan fleksibilitas produksi seperti
pengaturan lot size yang lebih kecil,
mengurangi set up cost, mengurangi
penyesuaian teknis untuk tiap produk, pengaturan modular produk (produk dapat
digabungkan/memiliki kesamaan), standarisasi proses produksi dan menyediakan
kemapuan untuk over capacity jika
diperlukan akan memberikan kemampuan perusahaan dalam mengambil keputusan
secara cepat dan reaktif terhadap segala informasi baru. Aktivitas demand management dapat diorganisasikan
secara spesifik menyesuaikan ketersediaan sumberdaya antara informasi, kemapuan
buffering dan fleksibelitas. Dan hal
ini tentunya dipengaruhi oleh pelanggan, supplier, kapasitas internal, dan
orientasi strategis dari perusahaan.
Dengan
adanya tahapan dalam S&OP yang meliputi S&OP
meeting, product review, demand review, supply review, financial review,
dan kembali ke S&OP meeting yang
menjadi aktivitas baru perlu dimaknai sebagai proses untuk mencapai perencanaan
terbaik. Dengan adanya proses ini maka telah ada upaya untuk menyeimbangkan
antara kemapuan supply dengan real demand, perencanna volume dengan
komposisi produk yang tepat dan pengintegrasikan perencanaan operasional dengan
perencanaan finansial. Kemudian hasilnya direview
oleh pihak management/excecutive
sehingga menjadi keputusan bersama. Panjangnya rangkaian ini tentunya
membutuhkan disiplin yang tinggi dari masing-masing pihak yang terkait.
Mengimplementasikan
proses forecasting dan S&OP
merupakan perubahan yang penting karena hal ini bersifat cross-functional. Dengan menerapkan hal ini berarti perusahaan telah
mendobrak kebiasaan lama di dalam manajemen perusahaan yang masih bersifat
tradisional. Sifat-sifat tradisional di dalam perusahaan seperti perencanaan
dan pengaturan yang terpisah seperti berbasis wilayah misalnya tidak dapat dilakukan
kembali karena didalam proses S&OP pemisah antara unit-unit produksi direduksi
dan strategi diambil secara terpusat barulah kemudian diturunkan pada level
yang lebih rendah. Oleh karena itu proses ini hanya akan sukses jika pihak –
pihak di dalam perusahaan bekerja sama untuk memastikan berjalannya sirkulasi
informasi serta dapat menerima perubahan - perubahan didalam proses bisnis di
dalam perusahaan.
Dengan
adanya
proses yang baru ini beserta fungsi-fungsi yang baru yang perlu diambil
oleh manager, menjadikan fungsi
manager berubah hingga naik pada level yang lebih tinggi. Fungsi – fungsi dasar
yang perlu dimiliki oleh manager supply
chain paling tidak meliputi : mengenali anggota yang
berperan dan berprngaruh dalam proses perencanaan
di sepanjang rantai pasok, mempublikasikan keberhasilan awal dan pengalaman sukses sebagai motivasi untuk menerapkan operational excellence di dalam
perusahaan, mencari dan melatih karyawan untuk dapat mengenali fungsi - fungsi
baru yang harus dijalankan, menajdikan karyawan sebagai bagian dari rencana perusahaan
untuk jangka panjang.
Keberhasilan
dalam menjalankan S&OP secara kontinyu dapat didukung oleh dua faktor utama
yakni supply chain knowledge and know-how experience dan Change management. Supply chain knowledge and know how experience dapat berupa kemampuan
dalam memahami bagaimana struktur dan skema ideal dari proses bisnis yang ingin
dicapai. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan benchmarking terhadap perusahaan lain yang sudah menjalankan proses
S&OP secara ideal. Selain itu perlu juga mengetahui apa saja tools yang dibutuhkan dalam mewujudkan
perubahan tersebut. Dan yang tidak kalah penting selanjutnya adalah dengan
memastikan bahwa tersedianya proses dan prosedur baru yang baik dan secara
kontinyu dapat ditingkatkan kualitas prosesnya. Sedangkan change management dapat diawali dengan memahami persoalan yang
dihadapi perusahaan dalam mengupayakan proses yang optimal, mengidentifiksi
perubahan - perubahan yang perlu dilakukan, menyediakan dan meningkatkan
kemampuan karyawan dalam menjalankan proses yang baru, serta menjalankan
perubahan tersebut dengan pendekatan proyek yang melibatkan pemain kunci dalam
manajemen rantai pasok di perusahaan tersebut. Namun pada akhirnya kesuksesan
akan ditentukan oleh kemampuan pimpinan dalam memanfaatkan solusi – solusi baru
tersebut untuk dapat mengoptimalkan proses dan meniadakan hambatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar