Pengantar Forecasting & Demand Management (2)
Oleh: Wibisono Adhi
Demand dipengaruhi oleh banyak faktor. Untuk itu di dalam
aliran demand diperlukan berbagai
data yang dapat menunjang untuk proses forecasting.
Aliran demand dapat diterjemahkan
sebagai beberapa tahapan. Mulai dari kebutuhan real dari konsumen akhir hingga
menajdi permintaan di pabrik. Pada proses ini demand mengalami beberapa perubahan bentuk. Demand selalu berawal dari permintaan konsumen akhir. Demand ini diartikan oleh retailer sebagai sales out to end-consumer. Dengan adanya hal ini maka akan menghasilkan
demand bagi local distribution center (DC) dan seterusnya hingga melewati beberapa
pos diantaranya distribution center,
pabrik dan juga supplier. Semua data penjulan di masing – masing pos dapat
digunakan untuk proses forecasing.
Semakin lengkap data maka forecast
dapat dilakukan dengan lebih baik. Data yang digunakan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan dan tujuan forecasting.
Untuk keperluan produksi, secara sederhana demand dapat dibagi menjadi dua berdasarkan
metode perhitungannya, yakni independent
dan dependent demand. Independent demand adalah demand yang bergantung pada metode foecasting, sedangkan dependant demand merupakan turunan dari independent demand yang dapat dihitung
melalui material requirement planning
(MRP) atau distribution requirement planning
(DRP). Sebagai contoh di perusahaan mobil independent
demand akan berupa berapa banyak mobil yang diminta dan dependant demand-nya adalah jumlah ban
mobil yang perlu disediakan.
Forecasting harus bisa dilakukan pada beberapa level di dalam
piramida produk. Proses ini harus bisa dilakukan secara agregat atupun
disagregat sehingga data akan tersedia untuk pembahasan terkait issue yang ada di
level item/SKU, grup produk, sub-family, family, strategic product family,
product line ataupun seluruh produk sebagai kesatuan. Hal ini juga diperlukan
untuk mencocokan forecast dengan
keadaan financial, penangan terhadap produk baru, kapasitas, manajeman supply
chain, dll. Hal ini juga diperlukan untuk keperluan import - export dan
reporting data.
Struktur produk dan proses manufaktur setiap
produk perlu dipertimbangkan dalam pendekatan forecasting. karakteristik konsumen juga sangat menentukan
kebutuhan forecasting. Sebagi contoh forecasting yang diperlukan untuk
interaksi business to business akan
berbeda dengan forecasting untuk praktik
business to customer. Dalam hal ini
beberapa hal yang ikut menentukan adalah volume data yang dibutuhkan, jumlah
pelanggan, studi pasar, advertising,
promosi, frekuensi pembelian, motivasi pembelian, kompetisi dengan kompetipor,
sensitivitas harga, frekuensi peluncuran produk dan life cycle produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar