Pengantar Forecasting & Demand Management (1)
Oleh: Wibisono Adhi
Terdapat banyak hal yang menjadikan forecasting menjadi hal yang sangat
penting untuk dilakukan dalam proses bisnis di industri manufaktur, salah
satunya adalah adanya ekspektasi dari pelanggan akan ketersediaan produk. Hal
ini sangat erat kaitannya dengan pemenuhuan ekspektasi pelanggan yang akan
menentukan daya saing dalam kompetisi perebutan pasar. Hal yang kedua adalah
adanya lead-time yang panjang untuk
pengadaan finished goods (FG).
Panjangnya lead time sering kali
disebabkan oleh adanya jarak antar pusat aktivitas di dalam rantai pasok,
proses produksi yang lama, dan bergantungnya proses produksi terhadap pasokan
bahan baku. Selain itu forecast
dibutuhkan juga untuk mengalokasikan kapasitas (mesin, operator, ketersediaan
waktu, dll), tenaga kerja (recruiting,
training, dll), serta kemampuan supply
dari pemasok. Hal keempat adalah untuk mengurangi inventory.
Survey yang dilakukan pada beberapa
perusahaan menunjukan bahwa tujuan paling umum perusahaan melakukan forecasting adalah untuk meningkatkan
kepuasan pelanggan, mengurangi kosongnya stock saat ada pesanan, mengefisiensi
jadwal produksi, mengurangi safety stock,
mengurangi biaya produk usang, mengoptimalkan penyusunan pegawai, memperbaiki
manajemen pengiriman, meningkatkan proses penentuan harga dan promosi, serta mendapatkan
posisi yang lebih baik saat bernegosiasi dengan supplier.
Alasan lain mengapa forecasting sangat diperlukan
adalah karena lead time rantai pasok
yang diperlukan perusahaan untuk menyediakan barang selalu lebih panjang
daripada lead time pemesanan yang disyaratkan
oleh pelanggan. Sebagai ilustrasi lead
time antara pelanggan membuka Purchase
Order (PO) sampai dengan tanggal rencana penerimaan barang oleh pelanggan
adalah 2 minggu. Waktu selama 2 minggu ini (dikenal sebagai Customer contractual lead time) tidak
cukup untuk mengakomodasi seluruh proses mulai dari pemesanan bahan baku,
proses produksi hingga pengiriman. Lead
time untuk penyediaan barang setidaknya dibagi menjadi tiga jenis, yakni material procurement lead time, Production lead time dan order fulfillment lead time. Ketiganya
disebut sebagai total supply lead time.
Material procurement lead time adalah
waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sumberdaya untuk melakukan proses
produksi (penyediaan material, man power,
persiapan kapasitas, dll). Production lead time secara sederhana
dapat diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk mengubah material yang
tersedia menjadi produk yang siap dijual. Sedangkan order fulfillment lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk
memenuhi pesanan pelanggan (mulai dari alokasi FG untuk pelanggan hingga FG
diterima oleh pelanggan)
Dengan adanya forecasting perusahaan
dapat meminimalisasi kendala karena hal yang tidak terduga. Sebagian besar
masalah di dalam manajemen rantai pasok memiliki root cause yang jelas dan dapat diantisipasi. Masalah seperti hilangnya
sales karena tidak ada stock atau armada pengiriman dan tingginya cost karena overstock/high stock, dan masalah lainnya akan bisa diantisipasi
dengan tepat. Forecast merupakan
kunci bagi perusahaan untuk meningkatkan performa. Dengan adanya forecast
pengurangan inventory dapat dilakukan
tanpa pengurangi service level
pelanggan. Dengan adanya pengurangan inventory
otomastis akan menurunkan biaya secara keseluruhan. Hal ini juga akan berdampak
pada lebih singkatnya life cycle
produk. Sejalan dengan konsep ini maka dengan meningkatkan kualitas atau
akurasi forecast berarti juga
peningkatan tingkat kepuasan pelanggan, efisiensi inventory dan efisiensi budget (penurunan biaya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar